Konsep Jam Hijriyah Versus Masehi
Konsekuensi
mengikuti jam masehi, waktu umat Isalm pun terbelah. Di seluruh dunia, umat
Islam berbeda –beda dalam menetapkan awal Ramadhan, Hari Raya idul Fitri, Idhul
Adha, dan ibadah lainnya yang tidak terlepas dari konsep waktu. Terkadang tanggal
1 Ramadhan ditetepkan pada hari Senin, Selasa dan bahkan ada yang hari Rabu. 1
Ramadhan menjadi 3 hari yang berbeda. Begitu juga dengan 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah,
berbeda –beda antarnegara. Satu tanggal dalam bulan Hijriyah, dirayakan dengan
hari –hari yang berbeda, bukan pada tanggal dan hari yang sama.
Dalam pandangan
Islam, waktu bukan sekedar uang ataupun emas. Waktu adalah sakral karena
terkait erat dengan ibadah. Shalat, Zakat, puasa Ramadhan, Senin dan Kamis,
puas Bidh ( tengah bulan ), puasa Asyura, wukuf Arafah, Ayyamut Tasyrik, hari Tarwiyah,Haji,
Aqiqah, Haid, Nifas,’Iddah, talak, dan ibadah lainnya sangat terkait erat
dengan waktu. Allahpun bersumpah berkali –kali atas nama waktu yang artinya :
Demi masa; Demi waktu Dhuha, Demi malam apabila menutupi ( cahaya siang ), demi
siang apabila terang-benderang; Demi fajar; maka Aku bersumpah demi cahaya
merah pada waktu senja, demi malam dan apa yang diselubunginya; dan ayat-ayat
lain-lainnya.
Perlu diketahui,
penanggalan Masehi dan jam Masehi tidak cocok untuk menentukan jadwal shalat
Isya dan shalat Tahajud. Misalkan hari Senin malam, tanggal 9 April 1012,
shalat Isya, jatuh pada kisaran jam 19. Kemudian misalkan, pada Senin malam,
seseorang belum bisa melaksanakan shalat Isya. Sholat Isya biasanya
dilakukannya pada pukul 1 dini hari. Secara fikih, shalat pada pukul 1 itu sah,
karena batas diperbolehkannya shalat Isya itu sampai menjelang subuh. Namun,
menurut penanggalan masehi, sholat jam 1 dini hari sudah masuk tanggal 10 April
dan hari selasa.karena hari senin berakhir pada jam 24.00, tengah malam. Jadi,
Senin tanggal 9 April, beararti orang tersebut tidak Sholat Isya’ karena
Sholatnya sudah masuk 10 April, hari selasa. Padahal menurut hukum fiqih,
shalat jam 1 dini hari sah, tapi menurut sistem penanggalan Masehi, shalat Isya
tidak dilakukan pada hari Senin, 9 April 2012.
Jika dikatakan,
sholat Isya itu dilakukan hari Selasa, 10 April, pukul 1 dini hari. Maka, jika
dilihat kalender penanggalan Masehi, jadwal sholat Isya, hari selasa, 10 April,
adalah jam 19. Jadi, shalat pukul 1, menyalahi jadwal yang ada. Jadi, ketika
sholat Isya pada pukul 1 dini hari, kalau yang digunakan adalah penanggalan
Masehi, maka sholat Isya itu tidak bisa disebutkan, tanggal berapa sholat itu
dilakukan. Jika disebut untuk tanggal 9 April, maka itu sudah berlalu. Jika disebutkan
untuk tanggal 10 April, maka itu juga tidak bisa karena menyalahi jadwal (
pukul 19 ). Terlebih tanggal 10 April, jika sholat tepat waktu pada pukul, 19,
maka jadilah sholat Isya itu dua kali dalam hari dan tanggal yang sama, yaitu
hari Selasa, 10 April 2012.
Sama halnya, jika kita melakukan
sholat Tahajjud pukul 1,2 atau pukul 3 dini hari. Menurut penanggalan Masehi,
pukul 1, 2 dan 3 sudah masuk waktu pagi, bukan lagi wilayah malam. Padahal,
niat kita Qiyamullayl . jadi, jika mengikuti jam Masehi, maka Sholat
Tahujud menjadi sholat pagi, bukan sholat malam.
Jadi,
jika penanggalan Masehi dengan jam Masehi digunakan untuk menjadi alat pengukur
hitung waktu, maka ibadah umat Islam menjadi problematis. Penetapan koordinat
waktu berbasis di Greenwich dan awal hari bermula di tengah –tengah samudra
Pasifik, menyebabkan ibadah umat Islam menjadi rancu. Maka dari itu, gagasan alternatif
seperti menjadikan Makkah sebagai penetapan koordinat waktu dan awal hari
bermula saat matahari terbenam, sangat perlu dieksplorasi secara mendalam. Ini tentu
kerja besar akan membawa dampak yang luar biasa kepada umat Islam Khususnya. Kerjasama
para ulama dan ulmuwan Muslim dan keterlibatan pemerintah dari negara –negara Muslim sanat mendesak untuk dilakukan.
Diharapkan,
dengan menetapkan mekkah, menjadi awal hari yang matahari terbenam sebagai
tanda perbagantian hari, maka beragam perbedaan seperti yang selama ini terjadi
akan dapat diselesaikan. Selain itu, kehidupan kaum muslimin akan lebih teratur
karena ia akan mengetahui bahwa malam itu adalah waktu beristirahat dan siang
adalah waktu bekerja. Semoga suatu saat Jam Hijriyah akan mulai digunakan Oleh
kaum Muslimin.
Posting Komentar