makalah paham sufisme dan pluralisme
Sufisme dan Pluralisme[1]
A. Pendahuluan
Dewasa
ini paham pluralism agama semakin hangat dikaji, karena kaum pluralis
mengaitkannya dalam ranah sufisme. Mereka mengambil representasi dari para sufisme[2].
karena menurut mereka dimungkinkannya titik temu antara agama-agama di ranah
transenden.
Olah karenanya muncul dua asumsi yang
menjadi pijakan paham pluralisme dalam melihat mistisisme sebagai jalan
spritual yang dilalui oleh para mistikus. Pertama, mistisisme merupakan milik semua agama. Kedua,
pengalaman mistis adalah pengalaman personal-subjektif yang memiliki
keunikan tersendiri, namun memiliki kesamaan-kesamaan subtantif, sehingga
setiap individu memiliki pengalaman mistis yang berbeda antara satu dan lain
agama, namun memiliki benang merah yang menyambung satu dengan yang lain[3].
Pandangan titik
temu agama-agama pada dasarnya sudah sangat problematic ketika dilihat dari
sudut pandang tiap-tiap agama. Walaupun sudah diadakan (dikalangan pluralis)
pembenaran dan pengkajian melalui pemikiran sufisme tentang titik temu agama,
banyak sekali kekeliruan mereka dalam membaca teks dan teori dalam tasawuf yang
cenderung memaksakan ide bahwa pemikiran sufisme adalah penganut pluralisme.
Berdasarkan problematika keagamaan di atas, maka perlu
adanya pembahasan tentang paham pluralisme yang dikaitkan dengan aliran
sufisme. Sehingga dapat diketahui kesalahan asumsi para pluralis.
B. Sekilas Tentang Pluralisme Agama
MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengertikan pluralism agama
sebagai sebuah paham yang mengejarkan bahwa semua agama adalah sama dan
karenanya kebenaran setiap agama adalah relative. Oleh karena itu setiap
pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanyalah yang benar
sedangkan yang lain salah. Pluralism juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama
akan masuk surga dan akan hidup berdampingan di dalam surga kelak.[4]
Pluralism agama muncul pada masa yang di sebut abad
pencerahan (enlightment ) Eropa, tepatnya pada masa abad ke-18, masa yang
disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern, Yaitu masa
yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang
berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebesan akal dari
kungkungan-kungkungan agama. Ditengah hiruk pikuk pergolakan pemikiran di Eropa
yang timbul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara
gereja dan kehidupan nyata di luar gereja, munculah suatu pahan yang dikenal
dengan “liberalism”. Yang komposisinya adalah kebebesan, toleransi dan
keragaman atau pluralism.[5]
C. Pluralisme dan sufisme
Asas adanya relasi agama-agama bagi kaum
pluralis adalah dalam ranah Esoterik. Istilah Esoterik (esoterik)
berasal dari kata Soterik, yang berarti, bagian dalam atau batin (bathin,
antonim dari kata Eksoterik (Exoterik), yang berarti bagian luar (Zhahir).[6]
Kemudian kedua istilah tersebut berkembang menjadi istilah keagamaan yang
menggambarkan dimensi batiniah dan lahiriah ajaran agama. Esoterik identik
dengan istilah hakekat dalam tasawuf, sementara eksoterik sama dengan syari’at.
kedua dimensi agama inilah yang menurut para pluralis merupakan satu-kesatuan
yang tak terpisahkan, sehingga muncul pandangan bahwa agama sebagaimana yang
diungkapkan Seyyed Hossein Nasr bersifat relatively absolute (mutlak
secara relative).[7]
Akhirnya wajar untuk mendukung konsep tersebut
maka muncul Pandangan kaum pluralis dalam mencari titik temu agama-agama dengan
cara menafsirkan sebagian teks al-Qur’an yang dianggap mendukung konsep pluralisme
agama.[8]
Selain itu, mereka menggunakan konsep pemikiran filsafat perinial dalam mencari titik temu
agama-agama tersebut. Karena pada dasarnya pluralisme
atas nama Tasawuf berasal dari pandangan kaum Perennialis.[9]
Padahal Pandangan filsafat perennial dalam mencari titik temu
agama-agama banyak bertentangan dengan doktrin tiap-tiap agama, karena tidak
ada suatu agama yang mengakui kebenaran agama lainnya.
Pandangan bahwa tasawuf pluralis
Sebagaimana
telah penulis singgung diatas, bahwasanya kaum pluralis menggunakan berbagai
macam cara pandang untuk memperkuat ide dan gagasan mereka. Pada akhirnya kaum
pluralis banyak berbicara tentang tawawuf yang menurut mereka memiliki aspek esoterisme dan
banyak berbicara tentang hal-hal yang melampaui ajaran Islam secara umum. Oleh
karenanya menurut F. Schuon bahwa melalui tasawuf, bentuk-bentuk keagamaan
lebih terbuka, khususnya pendapat yang ia nisbatkan kepada Imam al-Ghazali yang
menyebutkan, bahwa ia melihat bahwa amalan agama yang nampak (outward
Religion) merupakan proyeksi dari agama hati/cinta (religion of the
heart). Ini adalah esensi dari Islam yaitu tempat di mana segala perbedaan
bentuk/ agama tersatukan.[10]
Penyamaan antara tasawuf dengan mistisisme lainnya
dalam studi pluralisme agama merupakan bagian dari kajian orientalis terhadap
khazanah Islam. Kalangan orientalis, mengatakan bahwa tasawuf terpengaruh
dengan sumber-sumber asing, sebagaimana yang dikaji oleh Nicholson bahwa
tasawuf Islam sangat terpengaruh oleh mistisme Kristen, Gnosisme Yunani dan
agama Budha.[11]
Dari kajian model ini dimanfa’atkan dan dikembangkan oleh kalangan pluralis
untuk menjustifikasi bahwa Tasawuf adalah gerakan dalam Islam di mana semua
kebenaran agama-agama bertemu. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa arah dari
kajian perennialisme dalam tasawuf tidak lain adalah model dari kajian di dalam
kalangan orientalis.
Mistisisme
sebagai ruang temu agama-agama
Kosa kata mistisisme (Ing: mysticism)
berasal dari kata “mysterion” dalam bahasa Yunani yang berarti “rahasia”.
Sehingga dalam bahasa Indonesia timbul kata “misteri” dam “misterius” yang
berarti “rahasia atau sesuatu yang tersembunyi.” Dari asal kata inilah kaum
pluralis meminjam untuk menyebut pengetahuan tentang agama yang tersembunyi
dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka yang menjadi substansi utama dalam
mistisisme adalah menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan.
Ibnu
Arabi dan Pluralisme Agama
Di dalam Pluralisme agama, Ibn
‘Arabi[12]
adalah salah satu tokoh yang banyak dibicarakan dan diambil argumentasinya.
Frithjof Schuon dan Seyyed Hossein Nasr sering menyebut nama Ibn ‘Arabi dalam
karyanya, dan mengambil keuntungan dari pembacaannya serta menjustifikasi
kebenaran konsep tentang titik temu agama-agama. Selain F. Schuon dan S.H.
Nasr, tokoh lainnya yaitu William C. Chittick, juga banyak berbicara tentang
Ibn ‘Arabi, dan jika dilihat karyanya, akan nampak bahwa ia salah satu di
antara penggiat perennialisme yang paling sering menulis tentang Ibn ‘Arabi.
Karya-karyanya tentang Ibn ‘Arabi antara lain: Ibn ‘Arabi Heir to the
Prophet, the Self Disclosure of God Prinsciples of Ibn ‘Arabi Cosmology,
dan salah satu yang terpenting yakni Imaginal Worlds Ibn ‘Arabi and The
Problem Of Religious Diversity. Dari karya-karya F. Schuon dan W.C. Chittik
akan dibahas permbacaan kaum pluralis dengan gaya perennialisme terhadap teks
Ibn ‘Arabi.
Di dalam
bukunya “Imaginal World” Prof. William C. Chittick menjelaskan
bahwa melalui Ibn ‘Arabi konsep tentang pluralisme agama klasik telah
berkembang, dan setidaknya ada dua teks yang menurut W.C. Chittik menunjukkan
kepada doktrin pluralisme Agama. Teks pertama, menurut Ibn ‘Arabi, sebagaimana
yang dinukilnya, bahwa semua agama-agama sudah ada sebelum kemunculan Islam dan
wujud Islam tidak menghapus wujud agama-agama. Ia mengambil dari pernyataan Ibn
‘Arabi yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris:
“All the
revealed religions [sharai'] are lights. Among these religions, the revealed
religion of Muhammad is like the light of the sun among the lights of the
stars. When the sun appears, the lights of the stars are hidden, and their
lights are included in the light of the sun. Their being hidden is like the
abrogation of the other revealed religions that takes place through Muhammad's
revealed religion. Nevertheless, they do in fact exist, just as the existence
of the light of the stars is actualized. This explains why we have been
required in our all-inclusive religion to have faith in the truth of all
the messengers and all the revealed religions. They are not rendered null [batil]
by abrogation that is the opinion of the ignorant.”[13]
Dari pernyataan diatas dapat kita
simpulkan bahwa Ibnu ‘Arabi menggambarkan agama-agama laksana cahaya bintang
yang bersembunyi dibalik cahaya matahari ( cahaya Islam ), akan tetapi cahaya
bintang tersebut tetap eksis dan tidak hilang.
Teks tersebut oleh Chitick sengaja
dikutip sebagian dan berhenti sampai disitu, agar memberi kesan seolah-olah
ibnu ‘Arabi menolak bahwa semua agama samawi
pra Islam dengan sendirinya terabrograsi dengan datangnya Islam. Padahal maksud
pernyataan Ibn ‘Arabi adalah semua agama dan kitab suci yang dibawa oleh para
rasul pada zaman dahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah
masih-masing. Namun bukan berarti agama-agama sebelum Islam tersebut masih
valid setelah kedatangan Rasulullah saw. Atau bahkan sampai sekarang.
Padahal perkataan Ibn ‘Arabi di dalam Futuhat al-Makiyyah masih berlanjut dan tidak berhenti sebagaimana
yang telah dikutip oleh Chitik. Didalam kitab tersebut ibnu ‘arabi masih
meneruskan perkataanya yang berbunyi sebagai berikut:
فرجعت الطرق كلها إلي طريق النبي ص م فلو كانت الرسل في
زمانه لتبعه كما تبعت شرائعهم شرعه فإنه أوتي جوامع الكلم و ينصرك الله نصرا
عزيزا"[14]
Teks diatas dihapus oleh W.C.
Chittik sehingga pernyataannya ibnu ‘Arabi seakan-akan memang Pluralis dan sangat inklusif dalam memandang perbedaan
agama-agama.
Sedangkan
teks yang kedua yang menjadi dalih W.C. Chittik tentang
kesatuan agama-agama adalah tiga bait syair Ibnu ‘Arabi yang berbunyi :
“hatiku
telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa
Ia
bagaikan padang rumput bagi menjangan
Biara
bagi para rahip, kuil anjungan berhala
Ka’bah
tempat orang bertawaf
Batu
tulis untuk taurat
Dan
mushaf bagi al-Qur’an.
Agamaku
adalah agama cinta
Yang
senantiasa kuturut kemana pun langkahnya
Para
pluralis menafsirkan kata cinta ibnu ‘Arabi diatas dengan berbagai macam makna[16]
yang intinya adalah cinta spiritual yang merupakan serpihan dari cinta ilahiah
yang ingin kembali kepada asalnya. Ketika manusia melebur keasalnya, disinilah
manusia akan menemukan puncak pengalaman rohani yang menyatukan segenap
pendamba kasih ilahi, tak peduli dari penganut agama apa pun orangnya. Laksana
orang yang mendaki gunung , mereka sama-sama menuju satu puncak. Meskipun jalan
yang ditempuh berbeda, asalkan mereka menempuh jalan yang benar dan konsisten
mengikuti aturan lalu lintasnya, niscahya mereka akan sampai dan menyatu di puncak
gunung yang sama.
Sekilas
penjelasan tersebut tampak meyakinkan, namun jika dikaji lebih teliti
sebenarnya pemaparan tersebut jauh dari makna yang sebenarnya. Sebagaimana yang
di jelaskan oleh Dr. Syamsuddin Arief bahwa maksud dari puisi di atas telah dijelaskan
dalam Dzakha’ir
al-A;laq syarh Tarjuman al-Asywaq. Di
alam kitab tesebut jelas dikatakan bahwa ‘agama cinta’ yang ia maksud ialah
agama Nabi Muhammad SAW, merujuk pada Firman
Allah SWT dalam al-Qur’an, surah Ali ‘Imraan, ayat 31, yang artinya :
katakanlah Hai Muhammad, kalau kaliah betul-betul mencintai Allah, maka
ikutilah aku! Niscaya Allah akan mencintai kalian.[17]
Pengertian
cinta dalam ayat tersebut juga diterangkan dalam kitab al-futuhat
al-makkiyyah (bab 178, fi maqam al-mahabbah), di mana ia mengurai
empat jenis cinta. Yaitu cinta kepada Tuhan (hubb ilahi). Kedua, cinta
spiritual (hubb ruhani). Ketiga, cinta kodrati (hubb thoba’i).
Dan keempat, cinta material (hubb ‘unshuri). Setelah menjelaskannya satu
persatu, Ibn Arabi lantas menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan
dengan mengikuti syariat dan sunnah Rasul-Nya SAW.
Jadi,
‘agama cinta’ yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam, yaitu agama Syari’at dan
sunnah Nabi Muhammad SAW, dan bukan la religion du coeur versi Schuon
dan para pengikutnya itu.
Penutup
Paham
pluralisme dalam sufisme sebenarnya hanyalah sebuah paham yang melegitimasi pendapat para sufi yang menurut
mereka mendukung kesatuan agama-agama dalam ranah esoterik. Tapi pada
kenyataannya tokoh pluralis banyak memaksakan dan hanya mencocok-cocokan dengan
cara mengedit
baik dengan merubah atau
menghapus perkataan sufisme yang sebenarnya. Namun jika dikaji
secara kritis, maka semua yang mereka nyatakan adalah jauh dari makna
sebenarnya.
Daftar Pustaka
Adian Husaini, Pluralisme Agama Haram, cet 2005 bab 1
Ali, Yunasril, Sufisme dan
Pluralisme, penerbit elex media komputindo, Jakarta 2012.
Arief, Syamsuddin, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: GEMA INSANI, 2008.
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (
Jakarta : perspektif ( kelompok Gema INSANI), 2005).
Nicholson, R.A. al-Shufiyah Fi al-Islam. (Kairo: Maktabah
Al-Khanji. Tab’ah 2. 2002).
Muhammad, Husein, Mengkaji Pluralisme kepada Mahaguru
Pencerahan, cet pertama, penerbit Mizan, Bandung, 2011.
Chittick, William C, Imaginal Worlds Ibn al-‘Arabi and the
problem of Religious Diversity, Suhail Academy, Chowk Urdu Bazar, Lahore,
Pakistan, cet. Pertama, 2001.
[1] Oleh saparudin
supianto mahasiswa fakultas Ushuluddin ISID GONTOR
[2] Menurut para pluralis
bahwasanya paham pluralisme agama telah di ajarkan oleh para sufi. Konsep pluralisme
agama mereka sebut hasil dari pemahaman
persoalan pluralisme agama atau wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) dalam
tradisi pemikiran sufisme menurut pandangan Sufistik Ibn 'Arabi, Rumi dan
Al-Jili. Di antara para sufi yang sering dijadikan rujukan adalah Muhyi
l-din Ibn ‘Arabi, Jalal l-din al-Rumi dan ‘Abd l-Karim al-Jilli, yang menurut
mereka, bahwa tokoh-tokoh ini telah lama berbicara tentang adanya titik temu
dan kebenaran esoteric dalam agama-agama. Pandangan titik temu agama-agama pada
dasarnya sudah sangat problematic ketika dilihat dari sudut pandang tiap-tiap
agama. Walaupun sudah diadakan (dikalangan perennialis) pembenaran dan
pengkajian melalui pemikiran sufisme tentang titik temu agama, banyak sekali
kekeliruan mereka dalam membaca teks dan teori dalam tasawuf yang cenderung
memaksakan ide bahwa pemikiran sufisme adalah penganut pluralisme.
[3] Yunasril Ali, Sufisme dan Pluralisme, penerbit
elex media komputindo, Jakarta 2012, hal : 161.
[4] Adian Husaini,
Pluralisme Agama Haram, cet 2005 bab 1, hlm; 2.
[5] Anis Malik
Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, ( Jakarta : perspektif (
kelompok Gema INSANI), 2005), hlm. 16-17.
[6] Yunasril Ali, Sufisme dan
Pluralisme, Opcit, hlm; 25
[7]Ungkapan ini
tertuang dalam artikel Sayyed Hossen Nasr yang berjudul The One In The Many,
dipresentasikan pada parliament of the World’s Religions, Chicago, 2 September
1993.
[8] Sebagaimana
firman Allah dalam surah al-Hujurat : 13 : “Hai manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku....”
[9] filsafat
perennial, atau yang sering disebut dengan philosophia perennis, telah
berkembang menjadi sebuah perspektif dalam study keagamaan, dalam rangka
mencari titik temu agama-agama dalam wilayah teologis dan sosiologis.
Singkatnya Filsafat perennial adalah Keyakinan Bahwa dalam setiap agama-agama
dan tradisi-tradisi esoterik (Mistisisme/ Tasawuf) ada suatu pengetahuan dan pesan
keagamaan yang sama, yang muncul melalui berbagai macam nama dan dibungkus
dalam berbagai bentuk dan simbol Untuk lebih jelasnya silahkan lihat di
Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyudi Nafis. Agama Masa Depan Perspektif
Filsafat Perennial. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Cet: 1. 2003) hlm.
151.
[10] Schuon ketika
berbicara tentang Al-Ghazali. ia berkata bahwa ada dua jenis model cara orang
dalam beragama: “this means that in Islam. two “religions” meet. combine.
and sometimes confront one another: to outward religion – that of revelation
and the law – and the religion of the heart. of intellection. of immanent
liberty; they combine inasmuch as the outward religion procceds from the inward
religion. but they are in opposition inasmuch as the inward and essential
religion is independent of the outward and formal religion.” Lihat di
Frithjof Schuon. Esoterism As Principle… hlm. 230.
[11] R.A. Nicholson. al-Shufiyah Fi al-Islam.
(Kairo: Maktabah Al-Khanji. Tab’ah 2. 2002)
hlm. 19.
[12] Beliau adalah
tokoh asal Andalusia, Spanyol, yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Abdillah
Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdillah al-Hatimi at-Tha’i
dilahirkan tanggal 18/ 28 Ramad}an tahun 560 H atau 28 juli 1165 dan sengaja
dipilih karena menurut mereka ia merupkan sosok “sufi liberal”. Lihat di Dr.
Syamsuddin Arief, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: GEMA INSANI,
2008, hlm. 262.
[13] William C.
Chittick. Imaginal Worlds : Ibn ‘Arabi@ and
the Problem of Religious Diversity SUNY Series in Islam. State University
of New York Press. 1994. hal: 125. Dan ia juga menulis ulang kata-kata ini
dalam, Faith and Practice of Islam, Three Thirteen Century Sufi Texts, (Lahore. Pakistan: Suhail
Academy. 1st Published. 2004). p. 184. Terjemahan
bebasnya; “Semua agama wahyu (Syar'i) adalah cahaya.
Di antara agama-agama tersebut. agama yang dibawa nabi Muh}ammad adalah seperti
cahaya matahari di antara cahaya bintang-bintang. Ketika matahari menampakkan
dirinya. cahaya bintang-bintang akan tersembunyi dan cahaya mereka menyatu
dengan cahaya matahari. Cahaya mereka yang tersembunyi seakan-akan terbatalkan
oleh munculnya agama yang lainnya yaitu agama yang dibawa oleh Muhammad.
Walaupun demikian. mereka tetap eksis. sebagaimana eksistensi cahaya
bintang-bintang yang nyata. Ini menjelaskan mengapa "kita seharusnya
memerlukan dengan segala keterbukaan hati kita terhadap inklusifitas agama"
agar kita beriman dengan semua utusan dan semua wujud dari agama. Penyembunyian
cahaya itu. tidak menjadikan agama yang lalu terbatalkan – pembatalan itu tidak
lain adalah pernyataan dari orang yang bodoh.”
[14] Ibn ‘Arabi@. Futuh}a@t al-Makkiyyah. diambil dari University Of Toronto
Libarary. tanpa penerbit dan Tanggal. Hal: 176. bab: 339.
لقد صار قلبي
قابلا كل صورة * فمرعي لغزلان ودير لرهبان * و بيت للأوثان و كعبة طائف * و الواح
توراة و مصحف قرآن* أدين بدين الحب أني توجهت* و كائبة فالدين ديني و إيمان *
[16] Menurut
Yunasril Ali bahwa Ibn ‘Arabi membagi cinta atas tiga peringkat: cinta Ilahiah,
cinta spritual dan cinta alami. Cinta ilahiah adalah cinta primordial yang suci
serta abadi yang menjadi sumber segala cinta.yang tampil dalam dua bentuk,
pertama dalam bentuk penciptaan alam semesta, kedua di tempatkannya cinta dalam
kalbu makhluqnya. Sedangkan cinta spiritual adalah cinta yang bersumber dari
pendengaran yang mengalir dalam diri manusia yang merupakan serpihan dari cinta
Ilahi. Akan tetapi karena cinta itu telah dikontaminasi oleh hawa nafsu yang
hidup di dalam kalbu manusia, maka cinta spiritual tidak semurni pada awalnya.
Maka ia berubah wujud menjadi cinta Alami (al-hubb al-thobi’i). Lihat
ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), vol. III, h.
609-10.
[17] Dikutip dari
Dr Syamsuddin Arief, orientalis dan Diabolisme Pemikiran untuk lebih
jelasnya lihat : kitab
Posting Komentar