Menapak Tilas Perjalanan Sahabat Petualangan Terios 7 Wonders

Wah lagi –lagi Daihatsu mengadakan BLog contest, Daihatsu memang luar biasa. Terima kasih sebelumnya untuk Daihatsu yang telah memberikan kesempatan kepada para blogger khususnya diri saya sendiri untuk mereview perjalanan Terios 7 Wonder sahabat petualang yang sangat luar biasa. setelah baca, melihat beraneka ragam foto perjalanan mereka jujur saya merasa iri. Pengen rasanya bisa ikut berpartisipasi dalam perjalanan tersebut. tapi sangat disayangkan semua sudah terlambat dan kesempatan emaspun sudah lewat. Jadi hanya bisa mereview perjalanan mereka sambil membayangkan seakan-akan saya memang sedang ikut mengalaminya. Lumayan untuk menghilangkan kesuntukan setelah Ujian Tengah Semester.

Baiklah kali ini saya akan mulai mereview perjalanan mereka para sahabat ekspedisi Terios 7 Wonder hidden paradise sejak awal perjalanan  mereka dari daerah Sawarna Banten untuk melakukan pejalan menuju ke Pulau Komodo yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Waaaw ... itu adalah perjalanan yang super jauh.


Pemandangan di Pantai Sawarna

Tujuan pertama perjalan panjang Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise adalah Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Pantai ini menjadi tujuan pertama mereka karena ternyata pantai yang agak tersembunyi tersebut menyimpan banyak pesona unik yang layak dijelajahi. untuk menuju pantai tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit. karena sebenarnya saya juga belum pernah mengunjungi pantai tersebut, maka saya mendapatkan rute berikut adalah hasil wawancara dari salah satu satu peserta ekspedisi Terios 7 Wonders hidden Paradise. Kalau Dari Jakarta, Anda cukup melalui Tol Jagorawi, lalu keluar di Ciawi dan mengambil arah menuju Sukabumi. Hanya saja, selepas Ciawi biasanya jalan agak macet karena pasar tumpah dan banyaknya truk-truk aqua di sepanjang jalan raya tersebut. Alternatifnya, Anda bisa keluar di Bogor dan melalui Lido, hanya saja jalur ini memang agak kecil, berkelok-kelok, dan agak membingungkan karena tak ada petunjuk arah. Pada ekspedisi Terios 7 Wonders ini kami diajak melalui jalur ini, namun kalau Anda ragu saya sarankan tetap melalui jalur utama. Setelah memasuki jalan raya Sukabumi, teruskan arah menuju kota Sukabumi hingga menemukan pertigaan menuju lokasi Arung Jeram Sungai Citarik. 


Ada beberapa operator di sana, yang paling besar adalah Arus Liar dan papan petunjuknya terpampang jelas di pertigaan ini. Anda tinggal belok kanan dan ikuti jalan aspal hingga menemukan jembatan baja lokasi titik awal pengarungan Sungai Citarik. Ikuti saja jalur ini, Anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok naik turun dan akhirnya akan sampai di pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dari pintu masuk tol di Kuningan sampai Pelaburan Ratu bisa ditempuh kira-kira 4-5 jam dengan kondisi lalu lintas normal, tidak terlalu macet. Dari Pelabuhan Ratu, Anda terus menyusuri jalan aspal ke arah barat. Anda akan melewati hotel paling legendaris di sini, yaitu Samudera Beach Hotel yang memiliki kamar horor yang di dalamnya ada lukisan Nyi Roro Kidul. Tak sembarang orang bisa melihat isi kamarnya, apalagi menginap di dalamnya. Anda juga akan menemukan papan nama Mak Erot yang legendaris. Anda bisa terus berjalan sampai menemukan pertigaan dengan gerbang Desa Sawarna di belokan ke kiri. Ambil jalan ini dan Anda akan tiba di Desa Sawarna. Dari Pelabuhan Ratu ke Desa Sawarna bisa ditempuh selama 2 jam, hanya saja kondisi jalan berlika-liku naik turun dan beberapa tempat sedang dalam perbaikan, jadi hati-hari saja.[2]


Deburan Ombak di Pantai Sawarna

Ternyata di tempat wisata tersebut tidak hanya berupa pantai, akan tetapi Sebenarnya masih banyak obyek wisata lain di Sawarna, seperti Pantai Lagoon Pari, Goa Lalay, Pantai Karang Bokor, Pulau Manuk, dan Goa Cangir. Berbagai obyek wisata tersebut membuat Suwarna menjadi surga yang tersembunyi dan layak untuk wisatawan kunjungi.

Setelah para sahabat petualang puas menikmati keindahan pantai Suwarna, mereka pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan guna menuju obyek wisata selanjutnya. Di daerah mana ya kira-kira .. ? . PENASARAN ? .. simak terus tulisan berikutnya.

Sahabat ternyata mereka sedang melakukan perjalanan panjang dan lintas provinsi yaitu menuju ke Desa Kinahrejodi kawasan gunung Merapi, Jawa Tengah. Ketika Anda hendak mendaki Gunung Merapi, bisa jadi akan melewati sebuah desa yang menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010. Desa itu bernama Desa Kinahrejo dan lokasinya persis berada di bawah kaki Gunung Merapi. Desa itu kini ramai dikunjungi wisatawan karena memang menjadi pintu gerbang atau jalur paling mudah untuk memulai pendakian ke Gunung Merapi.


Penampakan Pintu Masuk Desa Kinahrejo

Desa Kinahrejo tidak bisa dilepaskan dari seorang sosok fenomenal ‘kuncen-nya’ Gunung Merapi, yaitu Raden Ngabehi Surakso Hargo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Marijan yang lahir dan besar di Desa Kinahrejo pada 5 Februari 1927. Ia merupakan juru kunci Gunung Merapi sejak tahun 1982 dan harus berakhir pada 2010 karena turut menjadi salah satu korban erupsi Gunung Merapi. Mbah Marijan dimakamkan di Srumen, Glagaharjo atau sekitar 5 km dari Desa Kinahrejo.

Kondisi alam di sekitar Desa Kinahrejo sebelum terjadinya letusan dasyat Gunung Merapi begitu asri, subur dan hijau. Akan tetapi, berubah setelah kemarahanWedus Gembel (Baca: julukan untuk awan panas yang meluncur dari Gunung Merapi) pada 26 Oktober 2010 lalu. Pemandangan alam yang hijau dan rumah-rumah penduduk sekejap berubah tinggal puing-puing rumah yang hampir hangus terbakar.
Pemandangan tandus, berantakan, sunyi, dan debu tebal menutupi hampir seluruh kawasan Desa Kinahrejo. 
Walaupun kini kondisi Desa Kinareja tidak seindah dahulu tetapi justru keberadaanya telah menarik banyak wisatawan yang ingin menyaksikan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi saat itu. Anda masih dapat menyaksikan sisa-sisa awan panas yang dahulu suhunya mencapai hampir 600º Celcius dan kini menutupi hampir semua kawasan Kinahrejo.

 Setelah puas mengitari kawasan desa Kinahrejo dan mengeksplorasi lava tour, tim Terios 7 Wonders segera kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka selanjutnya. Dan rute yang akan mereka lewati adalah Adapun jalur yang dilewati rombongan adalah Yogyakarta – Klaten – Surakarta – Ponorogo – Tulungagung – Blitar – Malang – Tumpang – Gubug Klakah – Lumajang – Desa Ranupane.



tenda ranu pani
tenda tempat menginap di Ranu Pani

 Ranu Pane atau Ranu Pani merupakan nama sebuah desa yang berada di kaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Desa ini merupakan desa yang menjadi basecamp bagi para pendaki yang akan mendaki Gunung Semeru. Desa Ranu Pane masuk ke dalam wilayah Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Letaknya yang berada di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat Desa Ranu Pane memiliki suhu udara yang lumayan dingin (sekitar minus 4 derajat Celcius).  

            Tempat tersebut terkenal dengan keindahan danaunya. selain indah, di danau tersebut juga terdapat berbagai macam jenis ikan yang bisa di pancing. sehingga tempat tersebut memang sangat cocok bagi traveler yang memiliki hobby memancing di alam terbuka. begitulah keindahan alam yang terdapat di kawasan gunung Bromo tersebut. okey traveler setelah dari sini mari kita lanjutkan perjalanan untuk menuju objek kita selanjutnya. jadi tidak sabar lagi ....



Ternyata obyek selanjutnya tidak kalah menarik sahabat traveler karena mereka akan menuju Taman nasional Baluran. Taman Nasional Baluran adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, Indonesia (sebelah utara Banyuwangi). Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu gunung Baluran.



hewan baluran pagi
Satwa di Taman Nasional Baluran

Dan yang perlu pembaca ketahui adalah bahwasanya di taman tersebut terdapat beraneka ragam marga satwa yang ber populasi secara alami. Keindahan alamnya pun dapat dinikmati baik siang hari maupun malam hari. Sehingga para sahabat peserta Terios 7 Wonder melakukan ekspedisi di malam hari untuk melihat aneka satwa yang hidupnya di waktu malam.

Esoknya harinya sekitar jam 10, seluruh tim Terios 7 Wonders melanjutkan perjalanan dari Baluran Situbondo terus melaju ke arah Banyuwangi tepatnya ke Pelabuhan Ketapang. Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan akhirnya sampai juga para tim petualang ke pelabuhan Ketapang. Setelah registrasi kendaraan, mobil pun satu persatu memasuki kapal Ferry yang sudah siap membawa mereka menyeberang dari Jawa ke Bali, untuk menuju obyek hidden paradise yang ke-5.

pelabuhan gilimanuk
Pelabuhan Gilimanuk Bali

Tidak beberapa lama kapal pun mulai menginggalkan pelabuhan Ketapang untuk menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali. Penyeberangan yang singkat sekitar satu setengah jam tersebut tidak di sia-siakan oleh para Peserta Terios & Wonders. Mereka sudah tidak sabar untuk mendokumentasikan setiap momen baik di dalam maupun di luar kapal Ro-Ro (Roll on Roll Over) tersebut. 

Setelah melintasi Selat Bali, bermalam di Denpasar, dan menyeberangi Selat Lombok, tiba saatnya untuk memulai petualangan menuju obyek yang ke 5 yaitu terletak di Desa Sade Rambitan. Berbeda dengan destinasi sebelumnya, kali ini Sahabat Petualang akan diajak mengenali kehidupan tradisional Suku Sasak yang tetap terjaga di tengah gempuran modernisasi.

Desa Sade Rambitan sebenarnya mudah dijangkau. Terletak di Kabupaten Lombok Tengah, desa ini terletak persis di samping jalan raya Praya-Kuta, hanya berjarak 30 km dari Mataram. Dari Bandara Internasional Lombok, desa ini bisa ditempuh cukup dalam 20 menit dengan kendaraan bermotor.


Pasti pembaca bertanya, kanapa desa Sade Rambitan di pulau Lombok tersebut menjadi pilihan obyek dalam Ekspedisi Terios 7 Wonders ?. untuk jawabanya silahkan teruskan membacanya ya Hehehe..


Tim Terios 7 Wonders siap menjelajahi Desa Sade Rambitan, kampung Suku Sasak
Desa Rembitan-Lombok

Ternyata di desa Sade tersebut tersimpan bayak tradisi dan budaya yang masih dilestarikan sampai sekarang yang kenyataannya sudah sangat modern. Tradisi lama leluhur tersebut secara turun temurun tetap di pertahankan oleh masyarakat setempat. Tradisi tersebut di antaranya adalah : 

1. Tari Paresehan
Jika anda pernah menyaksikan sinema Sajadah Ka’bah yang di perankan oleh aktor senior Roma Irama, Ruhut Sitompul, dan akrot muda Ridho Roma, pasti pembaca akan memahami secara jelas tradisi Taian ini. Tak cukup sampai di situ, kami kembali disuguhi tarian yang sangat populer yaitu tari Paresehan. Sebenarnya ini bukan tarian, tapi lebih mirip pertarungan antara 2 lelaki menggunakan tongkat rotan sebagai senjata penyerangan dan perisai dari kulit sapi sebagai senjata pertahanan. Para petarung yang masih muda didampingi sesepuh yang bertindak seperti pelatih. Pertarungan berlangsung seru, tak henti-hentinya suara gebukan rotan di kulit sapi membahana di atmosfer Desa Sade Rambitan. Akhirnya pertarungan baru berhenti setelah seseorang berhasil memukul lawannya tanpa bisa ditangkis.

Pelatih memulai pertarungan Paresehan sebagai pemanasan
Tari Paresehan

2. tarian seperti tari Bali
namun dibawakan oleh seorang anak lelaki. Gerakannya sangat dinamis dengan dandanan yang aktraktif. Meskipun masih kecil, raut wajahnya terlihat sangat menjiwai peran dalam tarian tersebut
Sahabat Petualang sibuk mengabadikan aksi dinamis anak kecil Suku Sasak
Tarian Mirip Tari Bali


3. Tari Amek Tempengus
Tarian ini juga hanya dibawakan oleh satu orang dewasa. Yang lucu adalah dia bisa memonyongkan bibir sehingga mirip mulut tapir. Apalagi wajahnya dibalur cat warna-warni sehingga kesan monyong semakin kuat. Penonton yang didominasi tim Terios 7 Wonders tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berburu momen unik dan menarik. Gerakan tariannya juga sangat hidup, sesekali lucu, sangat menghibur penonton.


Wajah lucu penari selalu menarik menjadi obyek fotografi
Tari Tempengus

Puas dengan berbagai hiburan yang telah disajikan untuk menyambut kedatangan Tim Terios 7 Wonders, merekapun berkeliling untuk melihat lingkungan tempat masyarakat desa Sade tersebut. Di dalam perjalanan mereka mengelilingi kampung Sade terdapat berbagai tradisi aneh suku tersebut yang mereka temukan. Seperti memoles lantai rumahnya dengan kotoran kerbau, menenun dengan alat tangan.
Setelah berkeliling desa sekitar satu jam, akhirnya mereka meneruskan perjalanan menuju Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan untuk memberikan bantuan sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility Daihatsu Mataram. Sore hari setelah berkunjung ke Desa Sade Rambitan dan menyerahkan bantuan buku ke ponpes, Sahabat Petualang segera bergegas menuju destinasi berikutnya. Sebenarnya pantai ini tidak masuk dalam agenda tetap Terios 7 Wonders Hidden Paradise, yaitu pantai Pink Beach atau Pantai Tangsi. Pantai tersebut menurut penduduk lokal, yang konon sangat cantik namun tersembunyi. Rasanya cocok sekali dengan tema perjalanan kami, Hidden Paradise. Terletak di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, pantai ini juga disebut Barrack Coast atau Pantai Barak. Konon, ini bermula dari dijadikannya pantai ini sebagai barak militer tentara Jepang. Pantai ini bersebelahan dengan Pantai Tanjung Ringgit, kira-kira 1 km sebelumnya.
Ketangguhan Terios sekali lagi di uji dalam perjalanan tersebut. Karena selain bebatuan yang tak beraspal, jalan menuju pantai tersebut agak curam. Suspensi yang kokoh namun tetap empuk dan ditunjang ground clearance yang tinggi membuat Terios mampu melahap jalan berbatu dengan lancar. Apalagi rem cakram berventilasi di roda depan sangat pakem menjaga laju mobil agar tidak meluncur bebas. Akhirnya kami tiba di bibir pantai dan langsung terpana menyaksikan keindahan pantai ini. Tak salah memang kalau pantai ini layak disebut hidden paradise.
Sesampainya di pantai, para sahabat petualang menikmati keindahan pantai Tangsi. Tentunya momen tersebut tidak di sia-siakan oleh mereka untuk berfoto dan bermain ria di air laut pantai nan indah tersebut.
Setelah hai menjelang sore, para peserta petualanpun berkemas untuk persiapan menuju perjalanan berikutnya.
Keesokan harinya Sampailah para peserta petualang ke surga dunianya para komodo. Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.Pulau komodo adalah tujuan akhir perjalanan Terios 7 Wonder hidden. selain itu tempat ini juga menjadi obyek inti tujuan perjalanan mereka. 


Indahnya pulau Komodo di lihat dari atas
Tempat ini memang sangat cocok sebagai tempat ekspedisi Terios 7 Wonder hidden paradise. Karena selain pemandangan alamnya yang indah, di tempat tersebut memang tempat aslinya habitat komodo yang sekarang hampir punah tersebut. Sukses selalu untuk Daihatsu semoga dengan perjalanan bisa menguak surga dunia yang masih tersembunyi di indonesia. 
Komodo hidup bisa hidup bebas di sana

Demikianlah tulisan menapak tilas perjalanan sahabat Terios 7 Wonder Hidden Paradise, dan terima kasih yang sebesar besarnya kapada Daihatsu yang memberi kesempatan untuk menulis cerita singkat tentang perjalanan mereka.



bukti screenshot Tweet
Bukti Follow Twitter vivalog dan Daihatsu Indonesia