Resensi buku Resensi buku Renaisans Islam Asia Tenggara
Judul Novel : Resensi
buku Renaisans Islam Asia Tenggara
Pengarang : Azyumardi Azra
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA BANDUNG
Tahun Terbit : 2000
Tempat Terbit : BANDUNG
Tebal : 179 Halaman
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA BANDUNG
Tahun Terbit : 2000
Tempat Terbit : BANDUNG
Tebal : 179 Halaman
Buku yang berjudul asli “The Transmission of Islamic Reformism to Indoesia:
Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and
Eighteenth Centuries”, adalah merupakan disertasi saudara Azyumardi Azra yang
diajukan kepada Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir
tahun 1992, guna memperoleh gelar Ph.D. Dalam penelitiannya ini, Dr. Azyumardi
Azra telah menghabiskan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari dua tahun. Guna
mendapatkan data-data yang akurat, maka saudara peneliti telah melakukan
kunjungan ke berbagai daerah, seperti Banda Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Ujung
Pandang, New York City, Kairo, Madinah, Makkah, Leiden dan Ithaca (New York
State), sebagai derah-daerah yang dianggap memilki keterkaitan baik secara
langsung maupun tidak, dengan tema penelitian yang sedang dilakukannya.
Buku ini mengulas tentang Perkembangan dan kebangkitan Islam di
Asia tenggara, yang mana sangat berbeda kondisinya dengan kebangkitan Islam di
Timur Tengah. penyebaran Islam di Timur yang umumnya bersifat damai sangat
berbeda jauh dengan penyebaran Islam di Timur Tengah, yang dalam beberapa kasus
disertai dengan pendudukan wilayah oleh bala tentara muslim. namun bukan
berarti Islam yang ada di kawasan Nusantara adalah islam periferal, atau Islam
pinggiran yang jauh dari bentuk asli yang terdapat dan berkembang di pusatnya
Timur Tengah. Hal tersebut sebagai bantahan pernyataan orientalis yang
menyimpulkan bahwasanya islam yang ada di Asia Tenggara khususnya Indonesia
adalah islam periferal adalah sebuah pernyataan yang tidak logis dan sistematis
dan cacat metodologis dalam mengkaji Islam di Nusantara.
Sekilas buku ini
tampak menarik meskipun hanya melihat
sekilas judul dan daftar isi dan
sebagian sub judul dari karya tersebut. Apa lagi setelah membaca lebih dalam
inti dari pemikiran sejarah Azyumardi Azra, pembaca akan banyak menemukan
berbagai permasalahan perkembangan Islam yang ada di Nusantara yang di tinjau
dari berbagai sisi.
Karena menurut saya hal pertama bagi seseorang yang mendapatkan
buku adalah melihat judul dan sampul buku tersebut. Karenanya judul maupun
sampul buku haruslah menunjukan esensi dari seluruh isi buku tersebut. Buku
karya Azyumardi Azra ini berjudul Renaisans Islam Asia Tenggara, adalah judul
yang sedikit problematik. Sebab kalimat renaisans secara etimologis adalah Istilah
Renaissance berasal dari bahasa Latin “renaitre” yang berarti “hidup kembali”
atau “lahir kembali”. Pengertian renaissance adalah menyangkut kelahiran atau
hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi dalam kehidupan masyarakat
Barat.
Dalam pengertian yang lebih spesifik, Renaissance
diartikan sebagai suatu periode sejarah di mana perkembangan kebudayaan Barat
memasuki periode baru dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti ilmu-ilmu
pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabang, perkembangan sistem
kepercayaan, perkembangan sistem politik, institusional, bentuk-bentuk sistem
kepercayaan yang baru dan lain-lain.
Secara historis Renaissance adalah suatu gerakan yang
meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya telah dilahirkan kembali dalam
keadaban. Di dalam kelahiran kembali itu orang kembali pada sumber-sumber murni
bagi pengetahuan dan keindahan. Dengan demikian orang memiliki norma-norma yang
senantiasa berlaku bagi hikmat dan kesenian manusia.
Pemakaian kata Renaissance pertama kali oleh Jules
Michelet, seorang sejarawan Perancis yang lahir di abad ke-18 dan mulai
terkenal di dunia Barat pada abad ke-19 karena karyanya yang berjudul “History
of France” yang menekankan bahwa masa romatik Abad Pertengahan bukanlah sama
sekali tidak berguna bagi perkembangan kebudayaan Barat.
Dari penjelasan kata renaisanse tersebut dapat penulis
simpulkan bahwasanya kurang tepat di gunakan dalam ranah perkembangan agama
Islam di nusantara. Karena renaisanse adalah sebuah istilah yang di gunakan
oleh orang barat untuk menyebut perkembangan kebudayaan Barat, sedangkan
perkembangan dan kebangkitan islam memiliki esensi yang lebih dalam lagi karena
islam bukan hanya sekedar budaya tetapi mencakup ajaran agama dan kebudayaan yang
bersifat wahyu.
Yang menjadi perhatian pembaca selanjutnya adalah
sampul buku tersebut. Terlihat bahwasanya sampul belum telalu sesuai dengan
tema dan isi dari buku tersebut. Seharusnya sampul buku mampu mewakili atau
selaras dengan judul buku tersebut.
Agar mempermudah saya dalam meresensi buku ini, maka
saya akan meresensi buku ini per bab yang telah terdaftar di dalam daftar isi
buku ini.
Peradaban Islam di Asia Tenggara :
Refleksi sejarah
Yang perlu di kaji dalam tulisan ini adalah : apakah peradaban
Islam di Asia Tenggara cukup kondusif untuk menghantarkan bangsa-bangsa Muslim
di kawasan ini ke dalam masa saintifik teknologikal dan industrial ? prasyarat
apakah yang diperlukan agar peradaban Islam kawasan ini tidak terjebak dalam
posisi defesif belaka? Pertanyaan inilah akan di bahas secara singkat dan jelas
oleh penulis dalam bukunya ini.
Secara padat penulis menjelaskan apa yang menjadi
pembahasan di atas, sehinga membuat pembaca semakin banyak memahami dan
mengerti perkembangan Islam di Asia Tenggara. Wawasan inilah yang akan
memperkaya akan perkembangan peradaban Islam. Sehingga benar jika kemunculan
Islam di melayu menimbulkan transformasi kebudayaan peradaban lokal.
Sebagaimana yang terjadi dengan konversi masyarakat Arab ke dalam Islam pada
abad ke 7 yang juga merupakan transformasi kebudayaan-peradaban bangsa Arab.
islamisasi asia tenggara
Asia Tenggara menjadi wilayah Perdagangan Internasional, terutama daerah
gugusan pulau-pulau ( maritim). Pada saat itu terdapat dua jalur Perniagaan
Internasional,
1.
Jalur Perniagaan Darat atau yang biasa disebut Jalur
Sutra ( Silk Road), yang dimulai dari Tiongkok-Turkistan-Laut tengah. Ini
adalah jalur paling tua yang menghubungkan antara Cina dan Eropa.
2.
Jalur Perniagaan Laut, dimulai dari Cina-Laut Cina
Selatan-Selat Malaka-Calicut-( India)-Teluk Persia melalui Syam ( Siria) sampai
ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju ke Laut
Tengah.
Alam melayu atau gugusan pulau-pulau melayu di asia
tenggara meliputi: Singapura, Indonesia,Malaysia,Brunai, Filipina,Patani ( di
bawah penaklukan Thailand semenjak 782 M),. Gugusan pulau-pulau ini merupakan
pintu-pintu sempit yang terletak diantara Lautan India dan Laut Cina Selatan
yang mesti dilalui oleh kapal-kapal yang berpulang balik antara lautan India
dengan Laut Cina.
Akhirnya, dalam buku ini belum menjelaskan tentang
adanya teori tunggal yang dapat menjelaskan secara lengkap dan meyakinkan
tentang mengapa terjadi pengislaman secara besar-besaran, sehingga Islam muncul
sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Asia Tenggara. Agaknya, berbagai
teori itu harus dipadukan sedemikian rupa sehingga mampu menjelaskan secara
lebih lengkap dan meyakinkan. Berbagai faktor, baik yang inheren di dalam Islam
itu sendiri maupun faktor-faktor sosial, ekonomi, politik dan alur-alur
kesejahteraan yang ditempuh mesyarakat Asia Tenggara sejak kedatangan Islam
sampai sekarang, secara bersama-sama- baik secara langsung maupun tidak-
mempunyai andil dalam mengakibatkan terjadinya Islamisasi besar-besaran dan
intensifikasi kesadaran keislaman. Pergumulan faktor-faktor tersebut terlalu
rumit untuk bisa dijelaskan dengan suatu teori atau argumen tertentu.
Bahasa Politik
Islam di Asia Tenggara
Saya
sangat setuju dengan pemikiran penulis tentang bahasa melayu yang banyak
menerima pengaruh bahasa Arab, khususnya dalam peristilahan dan aksara, yang
kemudian diangkat menjadi bahasa
nasional Indonesia. Dan sebagian besar kosakata Arab yang diadobsi bahasa
melayu indonesia berkaitan dengna konsep seperti keagamaan : ibadah, hukum
Islam, pendidikan, dan tradisi sosial dan adat. Selanjutnya berkaitan dengan
politik yang berasal dari bahasa Persia dan turki meskipun lebih sedikit.
Bahasa adalah
kunci ilmu, karenanya pengaruh bahasa sangatlah signifikan dalam perkembangan
Islam di Nusantara. Hal tersebut disebabkan pengaruh masuknya ajaran Islam di
Nusantara.
Sehingga penguasa
dan raja nusantara pada masa itu sangat berambisi untuk mendapat gelar sultan
dari sultan makkah. Hal tersebut memang pada dasarnya adalah bersifat politik.
Hal tersebut adalah merupakan upaya meningkatkan legitimasi dan aura
kekuasaannya, sehingga para penguasa Muslim melayu tidak hanya menggunakan
gelar sultan, tetapi juga menurut penulis mengklaim diri sebagai “wakil” Tuhan.
Hal tersebut memang tidak menutup kemungkinan, karena khalifah pada masa itu
sangat jauh berbeda dengan khalifah masa sekarang.
Sejauh ini bahasa
politik Islam di Asia Tenggara terlihat lebih berpihak kepada penguasa. Tetapi,
ini sebenarnya belum merupakan potret selengkapnya. Cukup banyak pula bahasa
politik Islam yang ditujukan khusus kepada penguasa dalam hubungan mereka
dengan rakyat.
Dalam karya
tersebut, sedikit banyakanya, telah menunjukan bahwa bahasa politik Islam di
Asia Tenggara, tepanya Melayu-Indonesia
Tradisi politik
kesultanan melayu di Nusantara
Kajian
tentang politik Islam di Nusantara memang cukup sulit. Hal tersebut di
karenakan sulitnya menemukan referensi dan tidak terdapat kitab Jawi Klasik
yang secara khusus membentangkan pemikiran politik Islam di Nusantara.
Kenyataan ini memang kontras dengan banyaknya kitab jawi dalam bidang kalam,
tasawuf, fikih, dan bidang-bidang keagamaan lainnya yang dihasilkan para ulama
dan pemikir Muslim di kawasan ini. Sehingga di dalam buku ini pun di jelaskan
secera singkat namun signifikan dalam hal tersebut.
Sehingga untuk
menemukan pembahasan tentang politik Islam di Nusantara dapat di temukan dalam
berbagai kitab klasik, yang di tulis dengan bahasa Arab. Kebanyakan kitab ini
merupakan karya sejarah yang di dalamnya membahas tentang berbagai prinsip
dasar politik Islam yang harus dijalankan dan dipatuhi sultan-sultan dan warga
masyarakat melayu.
Dijelaskan
bahwasanya kerajaan adalah sebagai suatu entitas politik melayu Muslim yang
mempunyai akar yang kuat dalam tradisi politik pra Islam. Sehingga raja pada
masa itu mempunyai kedudukan yang di pandang sebagai pribadi yang tercerahkan
yang bertugas membawa rakyatnya ke arah kemajuan ruhaniah. Sehingga waktu
penyebaran ajaran agama Islam di Nusantara maka tidak banyak merubah entitas
politik tersebut. Karena pada esensinya hal tersebut tidak bertentangan dengan
ajaran agama Islam.
Dijelaskan dengan
gamblang tentang kesultanan melayu dalam pembahasan ini. Sehingga dapatlah saya
ambil kesimpulan bahwasanya raja atau sultan melayu pada masa itu memiliki
kedudukan yang tinggi, bahkan menyatakan bahwa mereka adalah keturunan
tokoh-tokoh legendaris seperti Iskandar Zulkarnain, dan menempatkan rakyat pada
posisi jelata.
Sehingga terlalu berlebihan memang jika meninjau beberapa
pernyataan dan sanjungan terhadap raja atau sultan di Nusantara. Padahal
kedudukan sultan adalah kedudukan yang memiliki tanggung jawab yang berat. Dan
jika kita bandingkan dengan sikap serta sifat khalifah sahabat rasul memang
sangat jauh berbeda.
Nasionalisme,
Etnisitas, dan agama di Asia Tenggara
hubungan
etnisitas, agama dan nasionalisme di Semenanjung Malaya lebih kental lagi. Bagi
kaum melayu, sentimen etnisitas melekat ketet dengan agama islam dan
nasionalisme. Etnis Melayu boleh dikatakan identik dengan islam. Faktor utama
kenyataan ini tentu saja adalah komposisi demografis Semenanjung yaitu puk
melayu bukanlah golongan mayoritas mutlak. Rasa terancam khususnya dari
golongan Cina, sebagai kelompok etnis
kedua, mengakibatkan puak melayu harus berpegang lebih ketat kepada islam dan
kemelayuan itu sendiri sebagai pusat kesetiaan. Bagaimanapu hubungan antara
etnis melayu dengan cina dengan orientasi nasionalisme masing-masing tidak
selalu mulus.Paradigma nasionalisme yang bisa diterima kedua golongan ini
berada pada pijakkan yang cukup rapuh, khususnya karena belim terselesaikan
secara tuntas persoalan bahasa nasional, pendidikan dan peranan setiap kelompok
etnis dalam negara Malaysia.
Pengalaman pertumbuhan dan kebangkitan nasionalisme di
Asia Tenggara dalam hubungan dalam etnisitas dan agama, seperti dikemukakan di
atas, cukup bertolak belakang denagn padangan Fukuyama. Fukyama benar ketika
menyatakan bahwa nasionalisme awal (tepatnya protonasinalisme) pada abab ke-16
di Eropa yang begitu kental dengan sntimen keagamaan, hanya hasil fanatisme
keagamaan dan perang agama. Aggapan ini juga benar dalam hubungannya dengan
brutalitas nasionlisme Serbia sekarang ini. Namun dalam kasus Asia Tenggara,
dalam hal ini Islam di Indonesia dan Malaysia justru kebalikannya. Dengan wajah
yang lebih toleran dan ramah Islam Asia Tenggara justru meransang, menunbuhkan, dan berperan
amat positif dalam pertumbuhan nasionalisme.
Jaringan Ulama
Timur Tengah dan Nusantara Abad ke-17
Sejauh ini
tidak terdapat kajian komprehensif tentang jaringan ulama timur tengah dan
nusantara. Meski terdapat kajian-kajian penting tentang beberapa tokoh ulama
Melayu-Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18, tetapi tak banyak upaya dilakukan
untuk mengkaji secara kritis sumber-sumber pemikiran, dan khusunya tentang
bagaimana gagasan dan pemikiran Islam mereka transmisikan dari jaringan ulama
yang ada, dan bagaimana gagasan yang ditransmisikan itu mempengaruhi perjalanan
historis Islam di nusantara.
Lebih jauh,
ketika jaringan keilmuan itu sedikit disinggung, kajian-kajian yang ada lebih
berpusat pada aspek “organisasional” jaringan ulama di timur tengah dengan
mereka yang datang dari bagian-bagian lain dunia Islam. Tidak ada kajian yang
membahas “kandungan intelektual” yang terdapat dalam jaringan ulama tersebut.
Padahal kajian tentang aspek intelektual ini sangan penting untuk emngetahui
bentuk gagasan dan ajaran yang ditransmisikan melalui jaringan ulama.
Sehingga
dalam buku ini sangat bab ini di membahas Kajian tentang beberapa masalah pokok; Pertama, bagaimana
jaringan keilmuan terbentuk di antara ulama timur tengah dengan murid-murid
Melayu-Indonesia? bagaimana sifat dan karakteristik jaringan itu? Apakah ajaran
atau tendensi intelektual yang berkembang dalam jaringan? Kedua, apa peran
ulama Melayu-Indonesia dalam transmisi kandungan intelektual jaringan ulama itu
ke Nusantara? Bagaimana modus transmisi itu? Ketiga, apa dampak lebih jauh dari
jaringan ulama terhadap perjalanan Islam di nusantara?
Berbeda
dengan studi-studi yang ada tentang Islam di Indonesia praabad ke-19, yang biasanya
mendasarkan pembahasannya pada sumber-sumber Barat dan lokal, Azyumardi Azra
berusaha semaksimal mungkin menggali dan menggunakan sumber-sumber berbahasa
Arab. Tampaknya, inilah buku pertama yang menggunakan sumber-sumber Arab secara
ekstensif dalam pengkajian yang berkenaan dengan sejarah pembaruan pemikiran
Islam di Indonesia.
Sehingga dari
sini terdapat korelasi antara ulama Timur Tengah dan Ulama Nusantara. Yang
menyebabkan hal tersebut adalah adanya orang Asia tenggara yang menuntut Ilmu
di Timur Tengah. Sehingga terjadilah komunikasi antara guru dan murid, hingga
antara ulama di eranya tersebut.
Sehinga dari
sini dapat di simpulkan akan tertolaknya suatu asumsi yang mengatakan bahwa
abad ke-17 dan 18 adalah abad kegelapan bagi umat Islam. Karena pada
kenyataannya di abad ini justru merupakan masa yang sangat harmonis dan
dinamis, bagi perkembangan pemikiran serta keilmuan Islam. Islam dimasa ini
bukan lagi Islam yang bercorak mistik (sufistik), akan tetapi Islam yang
merupakan perpaduan antara Tasawwuf dan Syariah (Neo Sufism). Terjadinya
perpaduan diantara keduannya ini, merupakan kesadaran dari para ulama fiqih
(fuqoha) dan ulama tasawwuf (sufi), untuk saling menyadari akan keberadaan
serta peranan masing-masing. Dengan adanya kesadaran yang demikian inilah, maka
kemudian berkembang suatu praktik keislaman yang baru, yakni yang disebut
dengan Neo-Sufisme.
Selain itu
juga adanya peranan serta keterlibatan ulama-ulama melayu dalam jaringan ulama
Internasional, yang pada taraf selanjutnya mampu melakukan upaya transmisi
keilmuan dan pemikiran ke wilayah Nusantara, untuk melakukan langkah
pembaharuan. Perkembangan pemikiran dan keilmuan didunia Islam, memang tidak
terlepas dari adanya jaringan yang terbentuk diantara para ulama Timur Tengah
dengan ulama-ulama lain diberbagai dunia Muslim. Demikian pula dengan
perkembangan pemikiran dan pembaharuan yang terjadi di kalangan umat Islam
Indonesia, adalah merupakan hasil dari keberadaan ulama Melayu-Indonesia yang
terlibat dalam jaringan tersebut. Peranan Ulama ini bisa dilakukan dengan
mengaplikasikan ilmu, gagasan serta metode yang didapatkan dalam jaringan
tersebut, di tanah airnya, atau juga bisa melalui buku-buku yang disusun dan
disebarkan ke wilayah asalnya.
Ulama jawi di
Haramayn
Posting Komentar